Halaman Utama
Resolusi 2008
My Daily Life
Written by Leni   
Wednesday, 02 January 2008
Pukul 00.00 1 Januari 2008, saya lewatkan di dalam sebuah bis antar kota semarang-jakarta. Di tengah hujan yang terus mengguyur dan kubangan air di beberapa ruas jalan pikiran saya terus berkembara. Antara harapan, kecemasan, dan keinginan.
Ketika itu, bis telah memasuki kota Pekalongan. Sengaja saya mengedarkan pandangan keluar bis menelusuri bibir jalan dan trotoar. Saya ingin tahu apa yang dilakukan warga Pekalongan menyambut tahun baru ini. Tidak disangka banyak juga anak-anak muda yang menyemut dan membentuk koloni di pinggir-pinggir jalan. Sudah seperti gerombolan anak punk yang dulu sering saya lihat nongkrong di daerah Bulungan. Maaf, hitam dan lusuh, itulah pandangan sekilas saya terhadap anak punk. Beberapa memegang puntung rokok di tangannya, beberapa duduk-duduk di motornya. Sedih saya ketika itu. Itukah makna tahun baru bagi mereka? Ya, walaupun saya tidak tahu isi benak dan pikiran mereka sebenarnya. Tapi, terkadang apa yang terlihat dapat menjadi sedikit kesimpulan mengenai yang tidak terlihat di dalam. Saya harap semoga pikiran saya salah. Tapi, saya tidak terlalu setuju terhadap cara mereka menyambut tahun yang pastinya merupakan pertanda bahwa waktu kontrak kita di bumi pun berkurang setahun lagi. Apalagi mengingat ketika itu pula, banyak bencana yang sedang dialami oleh saudara kita lainnya di sudut-sudut pulau Jawa. Banjir, longsor, kedinginan. Ya, saya mengerti, usia mereka yang masih muda menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mereka belum paham dan peduli akan beberapa hal. Jadi, tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Lebih sering mereka menjadi korban dari hal-hal konsumtif yang menyenangkan dan melenakan. Sedih... mengingat saya belum punya kontribusi yang banyak yang bisa diberikan untuk Indonesia, anak-anak mudanya yang merupakan aset bangsa.

Jadi teringat ketika guru ngaji saya bertanya, "Apa yang akan saya lakukan untuk masyarakat Indonesia?". Saya menjawab, "Saya ingin dapat berguna dan membantu di sektor sosial, ekonomi, dan pendidikan. Saya ingin seperti seseorang di koran Kompas bu, yang mendapatkan penghargaan karena jasa-jasanya mengurangi buta huruf di sebuah daerah tertinggal. Dia berinisiatif mengajarkan membaca dan menulis dari rumah ke rumah. Saya ingin sekali seperti itu bu. Saya juga ingin membuka lapangan kerja setelah saya lulus kuliah, makanya sekarang saya mulai menyicil usaha kecil-kecilan untuk modal usaha nanti. Saya juga ingin membuka yayasan sosial bersama suami nanti bu, membuka taman baca, rumah binaan...", ya saya menjawabnya dengan menggebu-gebu, penuh dengan awan-awan impian. Dan guru ngaji saya hanya berpesan, "Supaya kamu tidak terlupa, alangkah lebih baik bila dituliskan. Karena terkadang bisa saja apa yang diomongkan hari ini akan berubah di keesokan harinya. Lagipula, sulit sekali jika ingin yang seperti dik Leni bilang. Butuh idealisme yang tinggi jika ingin bekerja sosial seperti itu." Dan saya pun termangu, benar juga. Belum sampai tahap itu pun, saat ini sering saya merasa lebih enak bekerja dan mendapatkan uang dibandingkan bekerja sosial, berat, dan melelahkan. Saya jadi malu. Apakah impian saya terlalu tinggi? Ataukah saya yang ingin enaknya sendiri?
Saya jadi sadar bahwa saya ini masih sangat lemah, pendirian dan usaha. Dan bukan impian saya yang salah, melainkan sayalah yang harus berubah.

Bicara memang gampang, tapi terkadang bicara banyak dibutuhkan untuk menyemangati diri sendiri. Karena hanya diri sendirilah yang tahu kapasitas diri. Tahu manga Naruto? Naruto Uzumaki, seorang ninja yang di dalam tubuhnya tersegel roh siluman rubah berekor sembilan? Sehingga akhirnya dia dijauhi dan dipandang sinis oleh penduduk desa tempatnya berada. Padahal, ia ingin sekali menjadi Hokage (orang terkuat di desa) di desa tempatnya berada. Awalnya, dia sama sekali tidak diperhitungkan, dianggap bodoh, dan tidak becus. Tapi, dia sama sekali tidak peduli akan pandangan di sekelilingnya yang menyudutkannya. Dia terus berlatih dengan harapan dia akan menjadi Hokage. Dan dia terus menyemangati dirinya sendiri. Berkali-kali dia hampir kalah dalam pertarungan tapi selalu saja mampu bangkit dan mengatakan dengan bangga, "Inilah jalan ninjaku." Ya, bicara tentang semangat, saya ingin sekali seperti Naruto, tokoh imajinasi dari Masashi Kishimoto yang sudah menjadi salah satu inspirator saya. Dia memang banyak bicara, tapi bicara untuk meningkatkan kapasitas dirinya dengan menghargai diri sendiri. Banyak bicara untuk menguatkan dirinya dan menjaga semangatnya. Juga banyak bicara untuk memicu usaha-usaha peningkatan dirinya.

Ya, semoga saja di tahun 2008 ini saya dapat lebih bersemangat dalam melakukan semua hal, dapat lebih bangga terhadap jalan yang telah dipilih seperti halnya Naruto, dapat menjadi lebih komunikatif, lebih peduli, lebih tangguh, dan lebih nyata dalam berbuat.
Berbicara tentang detil, inilah beberapa target saya di tahun 2008.

Comments (1) | Add as favourites (51) | Quote artikel ini ke situsmu | Views: 698

Read more...
 

Komentar Terakhir
Resolusi 2008
assalamu'alaikum wr wb amiiin, semoga bisa berupaya maksima...
09/06/08 04:20 Lainnya...
Oleh fish

Green Peace Campaign! This fragile earth deserves a voice! Just Join!
Cerita Terbaru
Status Y!M
Saya dan Keluarga

Shoutbox



Free shoutbox @ ShoutMix


Paling Sering Dibaca..
Arsip Cerita
Polling
Apa tanggapanmu terhadap Rental Buku Online?
 
Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini44
mod_vvisit_counterKemarin61
mod_vvisit_counterMinggu Ini478
mod_vvisit_counterBulan Ini365
mod_vvisit_counterTotal15394
Statistik Pengunjung http://rumahleni.com
Peta